Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan yang utama di dalam Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :



“Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin”
Pengertian Adzan
Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau seruan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah Ayat 3:
 وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ
“dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia”
Dan makna adzan secara istilah adalah seruan yang menandai masuknya waktu shalat lima waktu dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh tertentu.
Hukum Adzan
Ulama berselisih pendapat tentang hukum Adzan. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum azan adalah sunnah muakkad, namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan hukum adzan adalah fardu kifayah[3]. Akan tetapi perlu diingat, hukum ini hanya berlaku bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan atau pun disunnahkan untuk melakukan adzan[4].
Syarat Adzan
1.      Telah Masuk Waktu Shalat
Syarat sah adzan adalah telah masuknya waktu shalat, sehingga adzan yang dilakukan sebelum waktu solat masuk maka tidak sah.
2.      Berniat adzan
Hendaknya seseorang yang akan adzan berniat di dalam hatinya bahwa ia akan melakukan adzan dengan ikhlas untuk Allah semata.
3.      Dikumandangkan dengan bahasa arab
Menurut sebagian ulama, tidak sah adzan jika menggunakan bahasa selain bahasa arab. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah ulama dari Madzhab Hanafiah, Hambali, dan Syafi’i.
4.      Tidak ada lahn dalam pengucapan lafadz adzan yang merubah makna
Maksudnya adalah hendaknya adzan terbebas dari kesalahan-kesalahan pengucapan yang hal tersebut bisa merubah makna adzan. Lafadz-lafadz adzan harus diucapkan dengan jelas dan benar.
5.      Lafadz-lafaznya diucapkan sesuai urutan
Hendaknya lafadz-lafadz adzan diucapkan sesuai urutan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang sahih.
6.      Lafadz-lafadznya diucapkan bersambung
Maksudnya adalah hendaknya antara lafazh adzan yang satu dengan yang lain diucapkan secara bersambung tanpa dipisah oleh sebuah perkataan atau pun perbuatan di luar adzan. Akan tetapi diperbolehkan berkata atau berbuat sesuatu yang sifatnya ringan seperti bersin.
7.      Adzan diperdengarkan kepada orang yang tidak berada di tempat muadzin
Adzan yang dikumandangkan oleh muadzin haruslah terdengar oleh orang yang tidak berada di tempat sang muadzin melakukan adzan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengeraskan suara atau dengan alat pengerasa suara.

Sifat Muadzin
1.      Muslim
Disyaratkan bahwa seorang muadzin haruslah seorang muslim. Tidak sah adzan dari seorang yang kafir.
2.      Ikhlas hanya mengharap wajah Allah
Sepatutnya seorang muadzin melakukan adzan dengan niat ikhlas mengaharap wajah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dari adzannya itu.”
3.      Adil dan amanah
Yaitu hendaklah muadzin adil dan amanah dalam waktu-waktu shalat.
4.      Memiliki suara yang bagus
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada sahabat Abdullah bin Zaid: “pergilah dan ajarkanlah apa yang kamu lihat (dalam mimpi) kepada Bilal, sebab ia memiliki suara yang lebih bagus dari pada suaramu”
5.      Mengetahui kapan waktu solat masuk
Hendaknya seorang muadzin mengetahui kapan waktu solat masuk sehingga ia bisa mengumandangkan adzan tepat pada awal waktu dan terhindar dari kesalahan.
                        
Lafazh Adzan:

4x     اَللهُ اَكْبَرُ

2x     اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

2x     اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

2x     حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

2x     حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

2x     قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ

2x     اَللهُ اَكْبَرُ

1x     لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

Yang Dianjurkan bagi Muadzin
1.      Adzan dalam keadaan suci
Hal ini berdasarkan dalil-dalil umum yang menganjurkan agar manusia dalam keadaan suci ketika berdizikir (mengingat) kepada Allah.
2.      Adzan dalam keadaan berdiri
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salamdalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : “berdiri wahai bilal! Serulah manusia untuk melakukukan solat!”
3.      Adzan menghadap kiblat
  Menghadap kiblat artinya menghadap ke Baitullah (mekah)
4.      Memasukkan jari ke dalam telinga
Ini adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh sahabat Bilal ketika adzan.
5.      Menyambung tiap dua-dua takbir
Maksudnya adalah menyambungkan kalimat Allahu akbar-allahu akbar, tidak dijeda antara keduanya.
6.      Menolehkan kepala ke kanan ketika mengucapakan “hayya ‘alas shalah”dan menolehkan kepala ke kiri ketika mengucapakan “hayya ‘alal falah”.
7.      Menambahkan “ash shalatu khairum minannaum” pada azan subuh.

Pengertian Iqamah
Iqamah secara istilah maknanya adalah pemberitahuan atau seruan bahwa sholat akan segera didirikan dengan menyebut lafazh-lafazh khusus.
Hukum Iqamah
Hukum iqamah sama dengan hukum adzan, yaitu fardu kifayah. Dan hukum ini juga tidak berlaku untuk wanita.
Sifat Iqamah

2x     اَللهُ اَكْبَرُ

1x      اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

1x      اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

1x      حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

1x     حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

2x     قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةِ

2x      اَللهُ اَكْبَرُ

1x      لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

Apakah yang Melaksanakan Iqamah Harus Orang yang Mengumandangkan Adzan?
Sebagian besar ulama’ mengatakan hukumnya adalah hanya anjuran dan tidak wajib, sebagaimana kebiasaan Sahabat Bilal, beliau yang adzan beliau pula yang iqamah. dan boleh hukumnya jika yang adzan dan iqamah berbeda.
Demikianlah Semoga bermanfaat bagi kita semua wassalamualaikum wr. wb.
Asslamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu
Apakabar sobat KAI pada kali ini kita Akan Membahas Mengenai Keutamaan Dan Manfaat Puasa Syawal.
Puasa Syawal ditunaikan saat bulan Syawal. Setelah melewati warna warni dan kesyahduan Ramadan, hadirlah bulan Syawal, bulan yang identik dengan kegembiraan, kue, baju baru, sandal baru dan hiburan rakyat. Bulan Syawal adalah bulan yang penuh dengan kegembiraan dan keindahan silaturahmi bagi umat muslim.
Kegembiraan ini kadang membuat kita lupa bahwa sesungguhnya di bulan ini ada ibadah sunnah yang istimewa. Ibadah yang sangat dianjurkan bagi hamba yang bertakwa untuk menjaga semangat Ramadan yang telah ditinggalkan. Ibadah sunnah yang dimaksud adalah puasa Syawal. Ibadah sunnah ini sangat istimewa karena merupakan ibadah yang dilakukan pada saat euforia kesenangan dan makan minum justru sedang dipertontonkan.

Di saat kesibukan duniawi mulai dikerjakan, tidak mudah untuk konsisten menjalankan puasa sunnah ini. Hanya orang-orang sabar, orang-orang istimewa, dan orang-orang kuat yang mampu melawan nafsunya untuk mengutamakan keimanannya kepada Allah Swt.

Muslim yang baik adalah orang-orang yang senantiasa meningkatkan ketaatannya kepada Allah Swt. Salah satunya adalah melalui ibadah-ibadah tambahan seperti puasa Syawal. Kita yang tidak merasa puas hanya beribadah pada batasan minimal atau amalan wajib saja. kita selalu ingin lebih mendekatkan diri dan meraih kecintaan Allah melalui ibadah-ibadah tambahan.
Buah dari kesungguhan dan ketaatan pada Allah tersebut adalah semakin tingginya derajat seseorang tersebut di sisi Allah Swt. sehingga sampai pada derajat cinta-Nya. Ya, Ibadah wajib akan mengantarkan seorang hamba pada kedekatan pada Tuhannya, sementara ibadah sunnah akan mengantarkan seorang hamba pada 'cinta' Tuhannya. Derajat 'cinta' pasti lebih utama dari pada 'dekat'. Inilah derajat yang dirindukan oleh hamba-hamba Allah yang terbaik.

Dalam salah satu hadis Qudsi, Allah Swt. berfirman, "Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku lebih utama dari pada ibadah yang Kuwajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang melaluinya ia bisa mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya ia bisa melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia bisa memukul, dan menjadi kakinya yang melaluinya ia dapat melangkah. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Ku-beri dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Kulindungi." (H.R. Bukhari dan Abu Hurairah)
Pengertian Puasa Syawal

Apa yang dimaksud dengan puasa Syawal? Puasa Syawal adalah puasa enam hari yang dilaksanakan pada bulan Syawal. Rasulullah sangat menganjurkan umat muslim untuk mengikuti puasa Ramadan dengan puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal ini.

Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menjalankan ibadah sunnah ini, "Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian ia iringi dengan (puasa) enam (hari) di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa setahun." (H.R. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Subhanallah, begitu besar keagungan ibadah sunnah ini. Wajar jika kemudian Rasulullah saw. memberikan penekanan pada umatnya agar mengiringi atau mengikuti ibadah puasa Ramadan dengan ibadah puasa Syawal.
Waktu Pelaksanaan Puasa Syawal

Dalam hadis di atas, Rasulullah mengajak umatnya agar melakukan puasa Ramadan dan puasa enam hari di bulan Syawal. Lalu, kapan waktu pelaksanaan puasa Syawal? Apakah harus di awal bulan setelah Idul Fitri, pertengahan, di akhir, atau boleh kapan saja selama masih di bulan Syawal?

Dalam hal ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih. Sebagian ada yang berpendapat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal harus dilakukan langsung setelah hari tasyrik (Idul Fitri) sesuai dengan kata "mengikuti" yang tersyirat dari hadis di atas.

Sebagian lagi berpandangan bahwa puasa ini boleh dilakukan kapan saja selama bulan Syawal, kecuali hari tasyrik, dengan pertimbangan bahwa bulan Syawal berikut hari-hari di dalamnya adalah bulan yang mengikuti Ramadan.

Yusuf Qardhawi, salah seorang ahli fikih kontemporer dalam bukunya Fiqh Puasa lebih cenderung pada pendapat yang kedua. Selain itu, Yusuf Qardhawi berpandangan bahwa puasa ini tidak harus dilakukan berturut-turut, tapi boleh dilakukan secara terpisah-pisah sesuai dengan kesempatan dan waktu yang dimiliki.

Puasa Syawal bisa dilaksanakan di awal, di tengah, atau di akhir selama bukan di hari tasyrik atau hari pertama bulan Syawal. Pada waktu-waktu itu, kita dipersilakan untuk melaksanakan puasa Syawal.

Sementara itu, salah satu imam Mazhab, Imam Malik, berpendapat bahwa puasa pada enam hari awal bulan Syawal hukumnya makruh. Mengapa? Karena, pada hari-hari tersebut dikhawatirkan masih merupakan bagian dari Ramadan dan hari tasyrik.

Imam Ahmad berpendapat bahwa puasa ini boleh dilakukan berturut-turut atau pun selang seling. Sementara, Imam Syafi'I dan Hanafi lebih menganjurkan agar puasa enam hari di bulan Syawal dilakukan secara berurutan.

Akan tetapi, Yusuf Qardhawi dalam pembahasan puasa sunnah dalam buku Fiqh Ramadhan lebih menekankan pada pelaksanaan ibadah puasa Syawal tanpa perlu memperdebatkan waktu pelaksanaannya karena hadis shohih yang menjelaskan pelaksanaaan puasa ini sudah jelas. Selain itu, waktu-waktu yang dilarang untuk puasa juga sudah jelas (yaitu hari tasyrik pada 1 Syawal).
Keutamaan Puasa Syawal

Puasa Syawal sangat istimewa dan besar keutamaannya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ayub Al-Anshari, Rasulullah menegaskan tentang pahala puasa sunnah. Rasulullah mengatakan bahwa setiap puasa Ramadan yang diikuti dengan puasa sunnah enam hari, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.

Artinya, ketika seseorang berpuasa pada bulan Syawal setiap tahun seumur hidupnya, seolah-olah dia sudah berpuasa sepanjang umurnya. "Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian ia iringi dengan (puasa) enam (hari) di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa selama satu tahun." (H.R. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Hadis di atas kemudian diperjelas lagi oleh hadis lain yang menjelaskan bahwa puasa satu bulan di bulan Ramadan dikalikan nilainya dengan sepuluh bulan. Sementara, puasa enam hari (pada bulan Syawal) dikalikan dengan dua bulan. Jadi, ketika seseorang melakukan ibadah puasa Ramadan satu bulan penuh kemudian diiringi dengan puasa sebanyak enam hari di bulan Syawal, seolah-olah dia sudah menjalankan puasa seumur hidupnya.

Manfaat Puasa Syawal
Apa manfaat dari puasa Syawal yang bisa kita rasakan? Manfaat sangat jelas, untuk dunia dan akhirat bahwa Allah memberikan pahala yang berlipat ganda bagi setiap hambanya yang melaksanakan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal dengan penuh keikhlasan.
Manfaat Puasa di dunia:
    Menjaga ketaatan dan semangat ibadah yang sudah rutin dilaksanakan selama Ramadan
    Menenteramkan jiwa karena setiap ibadah sunnah semakin mendekatkan hubungan antara makhluk dan Sang Khalik
    Menjaga kesehatan kulit karena puasa merupakan salah satu aktivitas tubuh yang berfungsi sebagai detoksifikasi atau mengeluarkan racun dan zat-zat yang mengganggu sistem pencernaan dan kesehatan
    Menjaga berat badan agar tetap ideal
    Mencegah penyakit, sesuai dengan salah satu hadis Nabi Muhammad Saw yang memerintahkan umatnya untuk berpuasa agar sehat. Haris bin Kildah juga mengatakan bahwa perut adalah rumahnya penyakit. Oleh karena itu, membiasakannya untuk rutin berpuasa merupakan salah satu obatnya.
Dalam alquran Allah juga mengabarkan hal yang senada, "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orrang-orang yang berlebih-lebihan." (Q.S. al-Araf: 31). Di ayat lain Allah mengatakan, "Dan jika kamu berpuasa, itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Q.S. al-Baqarah: 184).

Puasa Syawal merupakan salah satu media pelatihan bagi kita untuk terus menjaga rutinitas puasa sunnah pada bulan-bulan berikutnya. Setelah mengetahui keutamaannya, Anda tentu tertarik untuk melaksanakan ibadah yang satu ini bukan? Ingat bahwa kebaikan tidak perlu di tundah karena kematian itu datangnya tidak ada namanya penundahan.

Sekian apa yang kita bahas kali ini semoga apa yang kita bahas bermanfaat bagi kita semua salam sobat Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu
Assalamualaikum Wr. Wb. Apakabar Sahabat KAI apakah Masih Sehat-sehat Selalu pada Kesempatan Kali Ini kita Akan Membahas Mengenai Arti Puasa dalam Kehidupan Manusia Sobat KAI Jangan heran jika semua agama atau aliran kepercayaan selalu mewajibkan umatnya untuk berpuasa. Kewajiban ini bukannya tanpa sebab dan tidak ada arti puasa. Dengan berpuasa, kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri akan dapat ditingkatkan.

Arti Puasa Bagi Kehidupan
Kemampuan setiap orang dalam mengendalikan dirinya merupakan aspek penting dalam pergaulan manusia untuk menuju tata kehidupan yang harmonis, penuh tenggang rasa, dan cinta kasih. Dengan argumen demikian, semakin terlihatlah bahwa arti puasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.

Arti puasa bukanlah sekadar menahan rasa lapar dan haus atau sebuah tindakan yang seolah-olah menunjukkan sikap empati terhadap orang-orang yang sedang mengalami kelaparan, sehingga pada saat waktu puasa berakhir, terkadang kita jadi sedikit berlebihan dalam hal makan dan minum.

Selain itu, berlebihan juga untuk menunjukkan bahwa berpuasa adalah suatu tindakan untuk menunjukkan sikap empati kita kepada orang-orang yang kelaparan. Puasa kita memiliki batas akhir waktu dan kita punya makanan untuk mengakhiri puasa. Namun, puasa orang-orang yang sedang kelaparan tidak memiliki kejelasan akan batas akhir waktu. Begitu pula dengan persediaan makanan untuk mengakhirkan puasanya.

Arti puasa bagi umat Islam adalah menahan diri dari makan dan minum, serta menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Waktunya dimulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Itu pun harus disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

Di dalam agama Islam, puasa adalah salah satu rukun Islam yang ketiga, yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Banyak jenis puasa yang ada di dalam ajaran agama Islam, ada yang wajib dilaksanakan dan ada yang sunah untuk dilaksanakan. Salah satu puasa wajib bagi umat Islam adalah puasa Ramadhan.

Puasa Ramadhan wajib dikerjakan oleh semua umat Islam, kecuali orang-orang yang dibolehkan untuk tidak berpuasa, tapi itu juga harus dibayar pada hari lain, selain bulan Ramadhan.

Puasa sunah boleh dikerjakan dan boleh juga tidak. Apabila dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak apa-apa. Contoh puasa sunah adalah puasa hari senin dan kamis atau puasa arafah.

Banyak manfaat yang dapat diambil dari berpuasa. Sebagai umat Islam puasa di bulan Ramadhan tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tapi juga menahan lainnya, seperti yang sudah disebutkan tersebut. Berikut ini adalah manfaat dari berpuasa bagi diri kita sendiri.

Arti Puasa - Jujur pada Diri Sendiri

Arti puasa yang pertama adalah komitmen bahwa kita akan belajar jujur pada diri sendiri. Seseorang yang menjalani puasa secara ikhlas akan bersikap enggan untuk membohongi diri sendiri. Sekalipun tidak ada orang yang melihat, dia tidak akan mencuri-curi kesempatan untuk makan dan minum atau melakukan hal lain yang dapat membatalkan puasanya.

Sikap ini didorong oleh keinginan untuk mendapatkan suatu kepuasan batin. Apabila ada seseorang yang mengaku berpuasa, namun tidak memiliki kejujuran pada dirinya sendiri, mungkin dia akan mendapatkan pengakuan kesalehan dari orang lain. Namun, jauh dilubuk hatinya, pengakuan yang dia dapat dari orang lain itu tidak akan pernah mendatangkan kepuasan bagi batinnya.

Kemenangan hakiki dalam setiap pertarungan hanya akan bisa memuaskan batin, jika didapat dengan cara-cara yang jujur. Di luar itu, kemenangan hanya akan jadi realitas semu. Demikian juga dalam pertarungan melawan hawa nafsu, hanya kita sendiri yang tahu. Dengan cara apa kita berhasil memenangkannya? Cara jujur atau curang?

Mengingat arti puasa adalah komitmen bahwa kita akan bersikap jujur pada diri sendiri, andai kita berbuat curang, dengan sendirinya kita telah berada di luar komitmen tersebut. Otomatis puasa yang kita jalani akan jadi kehilangan makna dan pahalanya tidak ada.

Bagaimana orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa, tapi melakukan tindakan yang tidak jujur, seperti mencuri. Hal tersebut dikembalikan lagi kepada pribadinya sendiri, apakah dia memahami arti puasa itu sendiri.

Jangan mencontoh pada yang buruk, tapi contohlah yang baik. Laksanakanlah puasa dengan kejujuran dan hasil yang kita dapat pun akan terasa ketika waktu berbuka puasa tiba.

Melatih anak berpuasa sejak dini juga, dapat melatih anak tersebut untuk bersikap jujur. Hal tersebut membuat anak menjadi mengerti apa arti berpuasa di kemudian harinya.

Arti Puasa - Pengendalian Diri

Arti puasa yang kedua adalah pengendalian diri (self control). Ketika menjalani puasa, kita akan berhadapan dengan hal-hal yang sebenarnya dihalalkan bagi kita. Namun, karena kita sedang berpuasa, hal-hal yang halal tersebut untuk sementara waktu diharamkan bagi kita. Kita pun dengan suka rela menerima ketentuan ini.

Kita tidak boleh memakan dan meminum semua makanan dan minuman halal yang kita punyai. Kita juga dilarang melakukan hubungan suami istri dengan pasangan hidup kita yang sah. Anehnya, kita tidak berkeberatan dengan hal itu. Bahkan, mematuhinya. Kenapa?

Karena kita betul-betul menyadari tentang arti puasa bahwa mengendalikan diri adalah aspek penting bagi kehidupan manusia. Tanpa adanya kemampuan dalam mengendalikan diri, sangat sulit untuk membedakan mana manusia dan mana binatang.

Bisa dibayangkan jika setiap orang sanggup untuk mengendalikan dirinya, sanggup untuk mengendalikan keinginannya dalam kehidupan sehari-hari, dunia ini akan tentram tanpa kejahatan.

Bayangkan, dengan berpuasa, seseorang bisa menerima ketentuan yang mengharamkannya untuk menikmati sesuatu yang sebenarnya halal baginya.

Dengan hal tersebut, sesuatu yang benar-benar haram pasti akan segera ditinggalkan. Bukannya mencari dalih bagaimana caranya menghalalkan sesuatu yang nyata-nyata haram supaya bisa dikorupsi secara aman.

Dengan rajin beribadah puasa, manusia bisa terhindar dari segala macam penyakit hati, seperti sombong, kikir, iri hati, dendam, dan sebagainya. Hati kita akan tentram dan damai, apabila kita bisa mengendalikan diri kita.
Berpuasa Sejak Dini

Berpuasa bagi umat agama yang lainnya juga memiliki arti yang sangat penting, yaitu untuk mengendalikan diri. Tapi, tidak semua manusia dapat mengendalikan dirinya sendiri. Untuk itu, perlu dilatih dalam mengendalikan diri sendiri.

Biasanya, orang tua selalu melatih anaknya untuk berpuasa sejak kecil, sehingga arti puasa bagi mereka tidak asing lagi apabila saatnya mereka melakukan ibadah puasa wajib.

Dari kecil dimulai dengan mengikuti puasa Ramadha bersama orang tuanya. Mungkin tidak satu hari penuh, tapi bisa dimulai dengan puasa sesuai dengan kemampuan si anak. Lama-lama anak tersebut akan terus terlatih berpuasa, sehingga anak itu dapat berpuasa sehari penuh.

Apabila tidak dilatih seperti itu, anak akan malas dan kaget, ketika datang bulan Ramadhan, puasa wajib, bagi dirinya. Puasa yang seharusnya dilaksanakan sehari penuh, tidak dapat dijalankan, hanya mampu setengah hari.


Untuk itu, bagi orang tua, terutama seorang muslim, latihlah anak Anda berpuasa sejak dini. Hal itu dapat membantu anak mengenal arti puasa lebih dini lagi. Begitulah arti puasa yang sebenarnya yang dapat kita laksanakan dan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Assalamualaikum Wr. Wb. Apakabar sobat KAI pada kesempatan ini Kita Mengupas Mengenai Manfaat Puasa Senin Kamis anjuran dalam Islam, berpuasa memiliki manfaat yang luar biasa dan beragam. Nabi Muhammad rutin melakukan ibadah puasa Senin Kamis. Itulah sebabnya, puasa jenis ini dihukumi sunnah. Sebagian umat Islam di seluruh dunia mengikuti sunnah tersebut.

Manfaat Puasa Senin Kamis

Manfaat puasa Senin Kamis tentu saja secara spiritual, yaitu mendapatkan pahala. Namun, disisi lain terdapat beragam manfaat lainnya, salah satunya dari sisi kesehatan. Sejumlah pakar menyebutkan puasa dapat membantu menjaga kesehatan, baik fisik maupun mental.

Sebut saja misalnya proses pembersihan badan, khususnya alat pencernaan dan detoksifikasi racun. Menurunkan tekanan darah dan kadar lemak.
Puasa pun bermanfaat untuk menjaga agar kita selalu awet muda. Karena, puasa bisa menghambat proses penuaan sel-sel dalam tubuh. Alhasil, fisik kita terlihat lebih segar.

Selain itu, puasa juga bisa menjadi alat pengendali nafsu seks. Jangan salah, nafsu seks tak terkendali bisa membahayakan. Itulah gunanya puasa Senin Kamis yang akan menjadi pengatur ritme dan mengendalikan nafsu hewani tersebut. Sehingga, kehidupan seks Anda akan lebih baik.

Dahsyatnya Puasa Senin Kamis

Puasa merupakan ibadah yang lazim dilakukan manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini bisa dilihat dari catatan sejarah yang ada. Sebagian manusia pada zaman dahulu mempraktikkan puasa sebagai ritual yang dipercaya untuk memberikan kesehatan bahkan keabadian. Di antaranya orang-orang Mesir Kuno yang meyakini bahwa kelebihan makanan akan menyebabkan datangnya berbagai macam penyakit.

Aflaton dan Socrates, filsuf Yunani Kuno, juga menjalankan puasa sebagai gaya hidup yang baik dan juga sebagai pengobatan. Pythagoras pun juga percaya bahwa puasa dapat mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Begitu pun juga dengan kepercayaan orang-orang Inca di Peru dan suku-suku Amerika lainnya. Mereka percaya bahwa puasa yang mereka lakukan dapat menjadi upaya untuk penebusan dosa.

Dewasa ini, puasan selain diamalkan oleh umat Islam, juga diamalkan oleh agama-agama besar di dunia. Yakni yahudi, kristen, dan Budha. Namun, setiap agama memiliki tata cara dan waktu pelaksanaannya yang berbeda. Puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama-agama besar di dunia ini mempunyai tujuan masing-masing. Akan tetapi, semuanya mengakui bahwa dengan puasa akan banyak manfaat yang dapat diambil.
Begitupun dengan puasa yang disyariatkan Islam. Tidak hanya kesehatan dan kemurnian pikiran yang akan didapat dari puasa Senin Kamis, tetapi juga masih banyak kedahsyatan dan manfaat puasa Senin Kamis yang lainnya.

Puasa Bisa Mempertajam Kecerdasan

Telah disebutkan bahwa salah satu manfaat puasa Senin Kamis adalah menjernihkan pikiran manusia. Hal itu dikatakan oleh Pythagoras, seorang filsuf yang tidak asing lagi di telinga kita. Pernyataan Pythagoras tersebut, tentu saja meyakinkan kita bahwa puasa Senin Kamis sangat bermanfaat untuk menjernihkan dan mempertajam pikiran. Namun, untuk lebih jelasnya, perlu ditinjau dari sudut pandang ilmiah dan dalil-dalil dari ayat Al-Qur’an dan hadis.

Dalam keadaan tidak ada pembakaran dalam tubuh dan mulai merasa kekurangan energi, mendorong otak untuk bereaksi. Menurut Dr. Bahar Azwar, rangsangan otak memaksa kelenjar pankreas mengeluarkan glukagon. Ia membakar glikogen yang tersimpan di hati menjadi glukosa. Namun, bila glukosa yang dihasilkan belum tercukupi, dimulailah pembakaran lemak di dalam tubuh.

Dari proses tersebut banyak manfaat dan dampak positif yang akan dirasakan tubuh. Kesediaan glukosa dalam otak pun menjadi seimbang. Jadi, otak pun akan tetap berjalan normal sekalipun tubuh kekurangan makanan. lebih lanjut, Dr. Bahr Azwar menegaskan bahwa pada saat tidak ada asupan makanan ke dalam tubuh, usus akan beristirahat.

Saat usus beristirahat, sari makanan akan berkurang. Jadi beban darah yang membawanya akan berkurang. Itu sebabnya, darah yang ada dalam otak, tidak perlu lagi dikerahkan untuk membawa sari makanan dari dalam usus. Ketika itulah pikiran akan merasa tenang dan segar.


Memberikan Ketenangan Jiwa

Manfaat puasa Senin Kamis lainnya adalah memberikan ketenangan jiwa. Menurut Imam Barakat Abdullah ba’lawiy Al-hadad, puasa memiliki ruh (jiwa) dan bentuk. Bentuk dari puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari yang disertai dengan niat. Sedangkan ruh dari puasa adalah menahan diri dari melakukan perbuatan dosa dan perbuatan haram, serta mengerjakan amalan fardhu dan sunnah.

Dengan demikian, orang yang berpuasa tidak hanya menjalani bentuk puasa, tetapi harus memiliki ruh dari puasa yang dilakukannya. Karenanya, puasa yang dilakukannya akan diterima oleh Allah Swt dan menjadikannya termasuk orang-orang yang memiliki jiwa yang suci. Sebab, orang-orang seperti itulah yang dapat mengontrol jiwa dan perilakunya.

Dengan kemampuan ini, secara otomatis orang yang terbiasa berpuasa akan mampu mengendalikan diri dan jiwanya. Ia akan merasakan kedamaian dan ketenangan hidup di dunia dan akan mendapatkan pahala surga yang terbaik di akhirat.

Jiwa yang tenag adalah jiwa yang terbebas dari dosa dan maksiat. Sebaliknya, orang-orang yang terbiasa melakukan dosa dan maksiat akan terganggu jiwanya. Sebab, jiwa setiap manusia tidak menghendaki jasadnya melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt. Hal ini dapat kita lihat pada sabda Rasulullah Saw yang menjadikan jiwa sebagai salah satu ukuran perbuatan dosa. Rasulullah Saw bersabda:

“Kebaikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu serta engkau tidak suka jika masalah itu dilihat orang lain” (HR. Muslim).

Kekuatan jiwa untuk menilai baik buruk suat perkara, sangat mudah dimengerti jika kita menyadari bahwa asal jiwa atau ruh manusia adalah dari Allah Swt. Oleh karena itu, jiwa manusia tidak akan menerima perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan syari’at Allah Swt.


Penemuan Terbesar Manfaat Puasa

Seorang dokter ahli asal Rusia, dr. Yuri Nikolayev menganggap puasa sebagai penemuan terbesar dalam bidang kesehatan. Menurutnya, puasa mampu membuat seseorang menjadi awet muda dan sehat secara fisik, mental, dan spiritual. Bahkan, sebuah lembaga di Amerika Serikat menyebutkan puasa sebagai cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik perempuan secara alami. Mau? Berikut merupakan daftar beberapa manfaat puasa Senin Kamis.

  • Peremajaan sel kulit
  • Mengencangkan kulit
  • Detoksifikasi racun dalam tubuh
  • Memberi waktu istirahat untuk organ pencernaan
  • Menurunkan tekanan darah
  • Menurunkan kadar lemak (kolesterol)
  • Menghambat proses penuaan (awet muda)
  • Memperindah dan mempercantik kaum wanita secara alami
  • Menenangkan jiwa dan perasaan
  • Mampu mengendalikan nafsu seks dengan lebih baik
  • Memacu jiwa empati terhadap sesama
  • Menimbulkan rasa solidaritas terhadap kaum miskin


Jadi, sobat KAI banyak sekali bukan manfaat puasa Senin Kamis? Dari berbagai pengalaman hidup muslim yang sukses, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pelaku rutin ibadah puasa Senin Kamis. Selain dapat pahala berlimpah, hidup menjadi lebih tenang, peluang sukses terbuka lebar, plus mendapatkan efek samping manfaat yang beragam. Mau apa lagi?

Assalamualaikum Wr. Wb. Pada Kesempatan kali ini kita akan Mebahas mengenai Keutamaan Puas Senin Kamis, Puasa Senin Kamis merupakan salah satu amalan sunnah yang bisa kita lakukan. Hal ini dikarenakan puasa merupakan pengontrolan diri yang diperintahkan Allah pada manusia di tengah hiruk-pikuk kehidupan dan rumitnya persoalan yang dihadapi setiap orang tentunya diperlukan suatu bukti untuk dapat mengendalikan diri dari hal-hal yang bisa saja terjadi dan tidak sesuai dengan semestinya.

Keutamaan Puasa Senin Kamis

Puasa Senin Kamis ini pun puasa yang diajurkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Dalam kehidupan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam puasa Senin Kamis adalah puasa yang tidak pernah ditinggalkan selama beliau hidup. Beberapa keutamaan puasa Senin Kamis dapat kita jumpai dari beberapa hadits diantaranya, yaitu:


1. Puasa sunah yang paling sering dilakukan Nabi, Abu Hurairah berkata

”Sesungguhnya Nabi paling sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, saat ditanya beliau bersabda: “Seluruh amal dibentangkan pada hari Senin dan Kamis, ketika itulah Allah mengampuni setiap muslim dan mukmin, kecuali dua orang yang sedang bermusuhan." Allah berfirman: “Tangguhkanlah untuk mereka berdua”.


2. Hari kelahiran Nabi dan hari beliau menerima wahyu,

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda:

“Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu juga aku menerima wahyu”. (HR. Muslim).


3. Masuk surga melalui pintu Ar-rayan

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya di Surga ada satu pintu yang namanya “Ar-Rayyan” yang akan dimasuki oleh orang-orang yang sering berpuasa, kelak pada hari Kiamat tidak akan masuk dari pintu itu, kecuali orang-orang yang suka berpuasa. Pada hari Kiamat terdengar seruan: “ Manakah orang-orang yang berpuasa?” Maka ketika orang terakhir dari mereka (orang-orang yang berpuasa) masuk, pintu pun ditutup.” (HR. Bukhari Muslim)


Niat Puasa Senin Kamis

Mengerjakan puasa Senin Kamis ini tentunya dibutuhkan niat dan keikhlasan hati yang kuat apalagi ketika kita berpuasa sedangkan pada saat itu tidak semua orang mengerjakan puasa insyaAllah setiap kita mengerjakan amalan dengan ikhlas melaksanakan sunnah rasul tentu akan mendapatkan pahala dan keuntungan yang luar biasa terutama untuk kesehatan tubuh baik secara jasmani maupun rohani.

Sebelum kita mengejakan puasa hendaklah kita meniatkannya di dalam hati kita untuk mengerjakan puasa Senin Kamis, dan tidak ada lapadz niat puasa Senin Kamis yang diriwayatkan Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam.

Adapun niat puasa Senin Kamis ini dilakukan sebelum fajar hari Senin atau Kamis, dan pada puasa sunnah ini diperbolehkan niat pada tengah-tengah hari. Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha:

“Ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam masuk kepadaku dan bertanya: apakah engkau memiliki makanan? Aku berkata: tidak, beliau berkata: berarti aku puasa.” (HR. Abu Daud).

Dari hadits di atas terlihat bahwa puasa Senin Kamis ini pun bisa kita kerjakan meskipun waktunya sudah di siang hari, misalnya saja bisa jadi sanking sibuknya aktivitas kerja kita, kita sampai lupa makan padahal waktu sudah tengah hari alangkah baiknya setelah itu langsung kita niatkan untuk berpuasa.


Cara Pengerjaan Puasa Senin Kamis

Selama ini kita menyangka bahwa puasa Senin Kamis harus dilakukan dua-duanya sehingga ketika salah satunya tidak bisa kita kerjakan maka puasa kita tidaklah sah. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“(pahala) amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai jika ketika amalanku diangkut dalam keadaan berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak mensyaratkan untuk pengerjaan puasa Senin Kamis harus dilakukan pada hari Senin dan Kamis dan tidak boleh melewatkan salah satunya, tapi di sini terlihat bahwa puasa yang kita kerjakan dihari Senin memiliki amalan sendiri begitupun ketika kita mengerjakan puasa pada hari Kamis memiliki amalan tersendiri juga tapi akan lebih baik ketika kita mengerjakannya secara lengkap puasa pada hari Senin dan Kamis.
Hikmah Puasa Senin Kamis dalam Kehidupan

Kita bisa melihat begitu istimewanya puasa Senin Kamis dari ketiga hadits di atas. Dari sini kita bisa melihat dari waktu pengerjaannya terdapat selang dua hari dari hari Senin ke hari Kamis dan dari Kamis ada selang tiga hari ke hari Senin. Dari sini kita bisa melihat puasa ini pun kita kerjakan selang beberapa hari.

Seandainya kita bisa mengerjakan puasa Senin Kamis ini secara rutin ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh:
1. Puasa Senin Kamis dapat membantu mengurangi kerja organ tubuh kita.

Ibaratnya tubuh kita adalah mesin tentunya jika mesin itu selalu bekerja dan tidak pernah istirahat akan lebih mudah rusak begitu juga dengan organ tubuh kita. Organ-organ yang selama ini setiap hari telah berkerja keras dan lelah akibat berkerja terus menerus diberi waktu untuk beristirahat. Sebagai contoh dalam sistem pencernaan terdapat mulut untuk mengunyah, tenggorokan untuk menelan, lambung untuk menghancurkan makanan, usus untuk menyerap makanan, serta usus besar dan anus untuk membuang sampah makanan.

Tentunya kita bisa membayangkan kerja setiap organ tubuh kita tersebut setiap harinya dan pada waktu puasa Senin Kamis inilah organ-organ tubuh kita ada kesempatan untuk memperbaiki struktur yang rusak, memperbaiki diri dan mempersiapkan diri kembali setelah kita berbuka puasa. Puasa Senin Kamis ini baik juga untuk kesehatan kita bukankah muslim yang kuat itu lebih dicintai Allah daripada muslim yang lemah.
2. Mengubah kebiasaan hidup konsumtif.

Dalam kehidupan kita sehari-hari tidak bisa dipungkiri meski terkadang di tengah kehidupan konsumerisme ini puasa Senin Kamis ini merupakan tantangan tersendiri bagi kita sebagai muslim  karena semakin sulit ditemukan muslim yang melaksanakan puasa Senin Kamis ini secara rutin.

Banyak kita jumpai saudara-saudara lita lebih memilih hidup konsumtif, yaitu lebih senang dengan pola makan yang serba instan dan berlebih-lebihan padahal Rasullullah Shalallahu alaihi wa Sallam melarang kita sebagai umatnya untuk makan yang berlebih-lebihan dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

“Berhentilah makan sebelum kenyang”.

Hadits ini memiliki makna yang dalam yaitu anjuran untuk tidak memasukkan makanan yang berlebihan karena ini tidaklah baik dan bisa menyebabkan kita menderita penyakit tertentu salah satunya makan yang berlebihan ini bisa menyebabkan obesitas, puasa Senin Kamis ini pun sebagai model puasa berselang seling memiliki pengaruh untuk mencegah obesitas karena salah satu penyebab utama dari obesitas ini adalah banyaknya makanan yang berlebih masuk ke dalam tubuh.
3. Sarana pendidikan rohani.

Saat kita mau mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam untuk mengerjakan puasa Senin Kamis ini  tentunya selain ini adalah ibadah kita pada Allah karena Allah telah menjamin puasa adalah ibadah khusus yang dipersembahkan kepada Allah. Dalam riwayat Abu Hurairah, Nabi bersabda: Allah telah berfirman:

“Tiap-tiap amal anak Adam untuknya sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pembalasan padanya”. (HR. Ahmad, Muslim, dan Nasa’i).
4. Mendidik jiwa agar dapat menguasai diri.

Puasa Senin Kamis ini sebagai penawar hati yang “keruh”. Saat kita tinjau dari psikologis, puasa ini melatih kesabaran kita, saat kita berpuasa tentunya kita menjaga diri dan perbuatan kita dari amalan-amalan yang tercela sehingga setelah kita secara rutin mengerjakan puasa Senin Kamis, emosi dan spiritual kita semakin baik.
5. Merasakan kesusahan orang lain (empati).

Apalagi di tengah padatnya rutinitas kerja bisa membuat kita begitu mudahnya melupakan orang-orang di sekitar kita, tapi di sinilah kita bisa belajar dan lebih peduli pada sesama terutama dengan orang-orang yang masih berada di bawah garis kemiskinan kita bisa melihat begitu sulitnya mereka hidup bahkan untuk sesuap nasi.

Sementara, kita alhamdulillah masih bisa makan setiap hari tanpa merasa kesulitan dari sinilah kita bisa merasakan apa yang selama ini mereka rasakan dari sinilah kita belajar untuk bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Perlu diingat bahwa semua amalan itu tergantung niatnya jika puasa Senin Kamis ini kita niatkan untuk kesehatan maka itupun akan kita peroleh tetapi ketika kita berpuasa untuk meningkatkan kualitas keimanan kita pada Allah, Insya Allah tidak hanya dunia tapi akhirat pun akan kita peroleh.
Puasa Senin Kamis untuk Kesehatan Jiwa dan Raga

Anda tentu sangat akrab dengan kata puasa. Bagi Anda yang menganut agama Islam, kegiatan berpuasa adalah hal yang wajib dilakukan satu bulan lamanya sebelum masuk Hari Raya Idul Fitri atau sering disebut dengan istilah bulan Ramadhan.

Selain puasa bulan Ramadhan, ada juga kegiatan puasa yang lain, yaitu puasa Senin Kamis. Puasa yang dilakukan hari Senin dan Kamis ini sunah hukumnya.
Puasa dan Kesehatan

Sebetulnya, puasa itu menyehatkan tubuh karena asupan makanan Anda menjadi jauh lebih teratur. Baiknya lagi, puasa dapat mengurangi asupan lemak jahat atau kolesterol di dalam tubuh. Terlebih saat puasa Anda jauh lebih sabar karena harus dapat mengendalikan nafsu. Hal ini berpengaruh positif bagi kesehatan psikologis Anda.

Saat Anda merasa jauh lebih tenang dan damai karena pengendalian nafsu yang benar, merangsang kerja otak untuk lebih fokus kepada hal-hal yang penting. Ketika Anda bisa fokus pada satu hal, pekerjaan Anda dapat selesai dengan cepat dan efisien.
Doa Akan Lebih Didengar

Puasa sangat membantu kita dalam menghadapi kehidupan ini. Jika dilakukan seminggu dua kali pada hari Senin dan Kamis secara teratur, kesehatan jasmani dan rohani Anda bisa terjaga dengan lebih seimbang.
Selain itu, puasa Senin Kamis dipercaya sangat membantu Anda untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta.

Banyak orang percaya dengan melakukan puasa Senin Kamis, doa-doa Anda akan semakin didengar Allah. Allah sangat mencintai umatnya yang setia menjalankan puasa Senin Kamis sehingga tidak sedikit dari doa-doa tersebut yang dikabulkan.
Puasa Senin Kamis dalam Tradisi Jawa

Dalam budaya Jawa, tradisi puasa Senin Kamis ini sudah dilaksanakan sejak dulu secara turun-temurun sebagai sebuah tradisi untuk ”laku prihatin” atau bersikap rendah hati, menjalankan keprihatinan dengan puasa atau semedi.

Puasa Senin Kamis pada budaya Jawa ini sebetulnya tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan umat Muslim. Puasa yang dilakukan untuk lebih mendekatkan diri pada jalan kebenaran dan mengekang nafsu-nafsu jahat yang cenderung kebinatangan seperti rakus, tidak setia, licik, dan sebagainya, bertujuan agar manusia kembali ke jalan yang benar dan luhur mengabdi pada Tuhan atau Gusti Pangeran.

Dengan melakukan puasa Senin Kamis, diharapkan kita bisa introspeksi diri tentang apa yang sudah kita lakukan selama sepekan. Saat berpuasa, Anda akan jauh lebih merasakan penderitaan, kekurangan, dan berusaha melepaskan semua keinginan yang Anda miliki untuk menjalani hidup dengan seadanya.

Selesai menjalankan puasa, Anda akan lebih bisa bersyukur atas apapun yang telah Anda dapatkan. Sikap mengampuni dan bersabar pun bisa Anda miliki. Anda berubah menjadi pribadi yang lebih bersahaja dan luhur.

Itulah beberapa hal yang bisa Anda dapatkan dengan menjalankan kegiatan puasa Senin Kamis. Semua bermanfaat, baik untuk raga dan jiwa Anda. Selamat mencoba Sobat kAI


Sobat KAI tentu sering mendengar kisah tentang walisongo, bukan? Ya, kisah walisongo atau kisah Sembilan wali dari jawa ini memang memiliki peranan yang sangat penting dalam proses penyebaran islam di tanah jawa secara umum dan di sebagian besar wilayah Nusantara secara khusus.Namun, sebelum membahas lebih detail tentang kisah walisongo ini, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu bagaimana islam masuk ke bumi pertiwi, Indonesia.


Walisongo - Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Sebelum memulai kisah walisongo, mari kita mengingat kembali bagaimana agama islam masuk ke Indonesia. Menurut beberapa pendapat ahli, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13. Hal ini diyakini dengan berdirinya kerajaan bercorak islam seperti Samudera Pasai, Malaka, dan Aceh. Islam dibawa oleh pedagang muslim yang melakukan interaksi dengan penduduk setempat.

Ada dua pendapat para ahli yang mengatakan bahwa islam disebarkan oleh pedagang dari Arab dan pedagang dari Gujarat di India. Bahkan, menurut catatan Ma huang dari Cina, di wilayah Indonesia sudah ada para pemeluk Islam dari Tiongkok (Cina). Itu bisa dimengerti karena pada abad ke 7, Islam sudah masuk ke Cina. Ada bukti bahwa orang-orang Cina pun melakukan perdagangan ke wilayah tanah melayu.

Islam masuk ke Indonesia dengan tiga tahap. Pertama masa perkenalan. Kedua masa penyebaran, dan ketiga penguatan yang ditandai dengan hadirnya negara-negara bercorak Islam. Pada berbagai tempat di wilayah Indonesia penyebaran Islam ternyata berbeda-beda. Hal tersebut akibat dari keruntuhan kerajaan Sriwijaya di Palembang pada abad ke 12.

Dengan runtuhnya pengaruh Hindu di wilayah Sumatera maka kerajaan Islam dapat berdiri. Begitu pun di wilayah Jawa (Java). Setelah kematian Hayam Wuruk dan Gajah Mada, kerajaan Majapahit melemah. Terjadi perang saudara di mana-mana dan juga wilayah yang terpecah-pecah. Islam masuk dan mengakar kuat.

Ini dikarenakan masyarakat tertarik dengan islam yang mengajarkan persamaan hak. Di mata Tuhan semua sama, yang membedakan mereka hanya amalnya. Ini tentu berbeda dengan ajaran agama Hindu yang membagi masyarakat dengan kasta.

Kuatnya Islam di Nusantara juga karena peran serta para da’i yang gigih menyebarkan islam di wilayah Jawa, meliputi Jawa Timur, Tengah, lalu Barat. Lalu, menyebar pada Kalimantan, Maluku dan wilayah Sulawesi. Penyebaran agama islam yang paling frontal tentu saja yang terjadi di Pulau Jawa. Ini semua terjadi akibat adanya sejumlah dai’I yang dikenal dengan sebutan walisong atau sembilan wali.
Arti Walisongo

Masyarakat awam menganggap walisongo berarti wali yang sembilan. Artinya ada sembilan wali di sekitar jawa timur yang berdakwah dan menyebarkan agama islam di masyarakat. Tapi ada beberapa pendapat ahli yang  menerjemahkan kata ‘songo’ dalam bahasa arab yang artinya mulia, ada juga yang mengambil dari bahasa jawa dari kata ‘sana’ yang berarti tempat.

Tapi, pendapat yang menarik adalah pendapat terakhir yang mengatakan bahwa walisongo berarti sebuah dewan yang didirikan oleh Raden Rahmat (sunan Ampel). Penulis lebih merujuk pada arti yang terakhir tersebut, dengan berpegangan pada fakta sejarah bahwa para wali tersebut bukan hanya ada di wilayah Jawa Timur, tapi juga di wilayah lain. Umumnya para wali itu datang dari jawa setelah mendapat pendidikan di pesantren yang didirikan oleh para wali di jawa.
Hubungan Kekerabatan di Antara Walisongo

Di wilayah Jawa Timur, bersamaan dengan melemahnya kekuatan Majapahit, seorang alim ulama dari Pasai bergelar Maulana Malik Ibrahim bergerak menyeberang ke wilayah Jawa. Sesampainya di wilayah tersebut, Maulana Malik Ibrahim mendirikan tempat berdagang untuk masyarakat sekitar. Dengan memberikan harga murah maka berkumpulkan para masyarakat melakukan transaksi perdagangan dengannya.

Dari sebuah tempat perdagangan, Maulana Malik Ibrahim pun mendirikan pondokan agama untuk menyebarkan Islam. Beserta putranya Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim menyebarkan agama di daerah Gresik (karena itu Maulana Malik Ibrahim digelari Sunan Gresik). Lalu, putranya, Raden Rahmat yang bergelar sunan Ampel mendirikan padepokan di Ampel Denta.

Dua putranya sunan Drajat dan sunan Bonang juga belajar di pesantren Ampel Aenta. Sunan Ampel memiliki sepupu bernama Joko Samudro atau Raden Paku yang juga menjadi muridnya dan bergelar Sunan Giri.

Sunan Giri nantinya akan mendirikan pesantren giri yang justru menelurkan banyak murid-murid yang nantinya akan menyebarkan Islam di berbagai belahan Indonesia tengah.

Sunan Bonang mempunyai murid Sunan Kalijaga atau biasa disebut Sunan Kalijogo, karena terkenal dalam suatu riwayat selama 4 tahun hidup di bantaran sebuah sungai atas perintah Sunan Bonang. Sunan Kalijaga sendiri memiliki anak sunan Muria dan memiliki murid Sunan Kudus.

Di antara sembilan sunan yang terkenal itu, ada satu lagi sunan yang bukan hanya sebagai penyebar agama saja, tapi juga pengendali pemerintahan, yaitu Sunan Gunung Jati. Dia dan semua sunan lainnya bersahabat, kecuali Sunan Gresik, karena telah lebih dulu mangkat.
Kisah Singkat Walisongo

Walisongo atau Sembilan wali ini memiliki kisah yang menarik. Masing-masing tokoh memiliki peran yang unik dalam proses penyebaran islam di Indonesia. Seperti apa kisah walisongo tersebut? Berikut adalah penjelasan singkatnya.


1. Walisongo – Maulana Malik Ibrahim

Walisongo yang pertama adalah Maulana Malik Ibrahim. Beliau diperkirakan lahir di Samarkan, Asia Tengah pada paruh awal abad ke 14. Maulana malik Ibrahim ini kadang disebut juga sebagai syekh Maghribi. Bahkan, ada juga sebagian rakyat yang menyebutnya sebagai kakek Bantal.

Maulana Malik Ibrahim yang merupakan saudara kandung Maulana Ishak merupakan anak dari seorang ulama Persia, Maulana Jumadil Kubro yang diyakini juga sebagai keturunan ke-10 dari cucu Nabi Muhammad, Syayidina Husein. Pernah bermukim di Campa (sekarang Kamboja) pada 1379, beliau akhirnya meninggalkan keluarganya dan hijrah ke tanah jawa pada 1392.

Tanah Jawa yang pertama kali disinggahi oleh Maulana Malik Ibrahim adalah desa Sembalo (sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, sekitar 9 km dari utara Kota Gresik). Adapun aktivitas pertama maulana Malik Ibrahim di tanah ini bukanlah berdakwah, melainkan menyediakan diri mengobati masyarakat secara gratis. Usai mendapatkan hati masyarakat, barulah Maulana Malik Ibrahim memulai misi dakwahnya dengan membangun sebuah pondok pesantren di Leran.


2. Walisongo – Sunan Ampel

Sunan Ampel memiliki nama kecil Raden Rahmat. Beliau lahir di Campa pada 1401 Masehi. Sunan Ampel merupakan putra tertua Maulana Malik Ibrahim. Nama Ampel sendiri diidentikan dengan nama daerah tempat beliau menyebarkan agama Islam, yakni daerah Ampel, yang kini merupakan bagian dari Surabaya.


3. Walisongo - Sunan Giri

Sunan Giri merupakan anak dari Maulana Ishak, saudaranya Maulana Malik Ibrahim. Selama tinggal di Jawa. Sunan Giri menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel. Barulah setelah merasa cukup ilmu, beliau membangun pondok pesantren di daerah perbukitan desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dari sanalah beliau memulai misi menyebarluaskan islam.


4. Walisongo - Sunan Bonang

Sunan Bonang merupakan anak dari Sunan Ampel. Dengan demikian, Sunan Bonang ini merupakan cucu dari Maulana Malik Ibrahim. Sunan Bonang ini dilahirkan dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Mulia pada 1465 M di daerah Tuban. Tak hanya sebagai tempat kelahirannya saja, Tuban juga kemudian menjadi pusat penyebaran agama islam oleh Sunan Bonang.


5. Walisongo – Sunan Kalijaga

Sunan kalijaga memiliki nama kecil Raden Said. Ia dilahirkan pada 1450 Masehi. Ayahnya adipati Tuban, Arya Wilatikta. Sunan Kalijaga merupakan yang paling banyak disebut di tanah Jawa, bahkan masyarakat Cirebon percaya bahwa namanya sendiri diambil dari daerah Kalijaga yang terdapat di Cirebon.


6. Walisongo – Sunan Gunung Jati

Masyarakat jawa sangat mengagumi Sunan gunung Jati. Bahkan sangat kagumnya kepada beliau, banyak kisah yang menyebutkan bahwa beliau pernah mengalami perjalanan spiritual Isra Mi’raj dan bertemu Muhammad saw (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).


7. Walisongo – Sunan Drajat

Sunan Drajat merupakan anak dari Sunan Ampel. Tugas berdakwah yang pertamanya beliau lakukan di pesisir Gresik, namun ia kemudian terdampar di sebuah dusun Jelog (sekarang Lamongan).


8. Walisongo – Sunan Kudus

Sunan Kudus merupakan murid Sunan Kalijaga. Beliau berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun hamper sama dengan pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus.


9. Walisongo – Sunan Muria

Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara Kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak meniru cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.


AssalamualaikumWr. Wb. Bersyukurlah kita masih diberi kesehatan oleh allah swt Sehingga Masih Dapat Medapatkan Ramadahan Kali ini, Pada kesempat kesempatan yang berbahagia ini Kita akan membahasa Mengenai Malam Lailatul Qadar.
Margasatwa tak berbunyi
Gunung menahan nafasnya
Angin pun berhenti
Pohon-pohon tunduk
Dalam gelap malam
Pada bulan suci
Qur’an turun ke bumi
Qur’an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan
Ketika cahaya sorga menerangi bumi
Ketika cahaya sorga menerangi bumi
Inilah malam seribu bulan
Ketika Tuhan menyeka airmata kita
Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

itulah tadi sekedar gambaran Malam Lailatul Qadar  lirik lagu religi yang dilantunkan Bimbo? Secara sepintas tidak ada yang aneh dengan liriknya, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sungguh  dahsyat.

Malam Lailatul Qadar tidak sama dengan malam-malam biasanya. Malam ini menjadi sangat istimewa bagi umat muslim dengan berbagai alasan. Pertama, ini merupakan salah satu malam di bulan Ramadhan di mana ayat suci Al-Quran di turunkan pada Rasulullah Muhammad SAW.

Malam ini memiliki kebaikan seribu bulan. Artinya, semua amal ibadah yang dilakukan pada malam ini memiliki keseteraan dengan ibadah yang dilakukan selama seribu bulan atau sam dengan amal ibadah selama 83 tahun dan 4 bulan. Ketiga, malam ini hanya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya dan tidak pernah diturunkan kepada nabi dan umut-umat sebelumnya.


Keutamaan Lailatul Qadar

Lihat kembali lirik lagu di atas. Begitulah kiranya penggambaran Lailatul Qadar. Sungguh sangat beruntung orang yang mendapatkan kemuliaan malam ini.

Allah SWT berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar (1). Tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu? (2). Malam lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan (3). Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan (4). Selamatlah malam itu hingga terbit fajar (5).
(QS Al – Qadar: 1-5).

Sepertiga akhir dari bulan Ramadhan ini adalah terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang sangat dimuliakan oleh Allah Ta’ala dibandingkan dengan malam-malam lainnya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.’ (QS. Ad Dukhan: 3-4).


Kapan waktunya Lailatul Qadar?

Sudah begitu banyak hadis yang menerangkan bahwa malam penuh keberkahan malam ini berlangsung pada sepuluh terakhir di bulan suci Ramadhan. Sementara hadis yang lainnya menegaskan bahwa malam itu akan jatuh di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir (21, 23, 25, 27, dan 29). Sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh imam HR. BUkhari: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan.” Dan “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”

Ada juga yang hadis yang menerangkan bahwa malam itu ada pada salah satu malam dari tujuh hari menjelang berakhirnya puasa (25, 27, dan 29). HR. Muslim meriwayatkan sabda Nabi: “Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia tertimpa kelelahan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.”

Semua hadis-hadis tersebut tidak ada yang bertentangan. Bahkan, semakin memperjelas waktu tibanya malam ini walaupun tidak ada seorangpun yang bisa memastikan turunnya malam ini dengan pasti.

Terdapat juga pendapat umum yang menyatakan bahwa malam ini jatuh setiap tanggal 27 di bulan Ramadhan. Para ulama di Makkah al Munawarroh mengkhatamkan Al Qur’an bersamaan dengan shalat Tarawih ke 27. Pada tanggal inilah, orang-orang berlomba memperbanyak amalan ibadahnya, shalat tarawih dan shalat sunah lainnya, memberi makan fakir miskin, memberi buka kepada orang yang berpuasa, dan amalan yang lainnya.

Di negara kita sendiri, terdapat suatu kegiatan unik yang dilakukan oleh jemaah thareqat mu’tabarah yang menjadikan malam ke 27 di bulan Ramadhan menjadi malam paling istimewa (malam pitulikuran). Mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk berbaiat, beribadah, dan berziarah kubur.

Untuk mendapatkan keutamaan malam ini, tambahlah porsi ibadah kita selama bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Shalat lima waktu jangan ditinggalkan dan laksanakan tepat waktu dan berjamaah. Dirikan shalat malam.

Lantunkan ayat-ayat suci Al-Quran sebanyak-banyaknya dengan pelan dan sesuai dengan ejaan tajwidnya. I’tikaf di mesjid sangat dianjurkan (disunahkan) sebagimana yang dicontohkan oleh Rasullulah dengan memperbanyak dzikir, istighfar dan memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala.


Do’a pada Malam Lailatul Qadar

Sebagaimana yang disyaratkan, malam ini adalah malam pengampunan kita atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Maka, sudah selayaknyalah dilantunkan berbagai doa dan pujian disertai dengan keikhlasan hati untuk meminta kepada-Nya. Terdapat satu do’a khusus yang biasa diucapkan pada malam-malam ini, yaitu:

“Allahummma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni.” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.”

Doa ini merupakan doa yang berkaitan dengan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan juga berkaitan dengan malam ini yang diajarkan oleh Rasulullah kepada istri tercintanya, Aisyah.
Tanda-tanda Lailatul Qadar

Allah SWT tidak menyatakan dengan jelas dan menyembunyikan tentang waktu datangnya malam ini. Ini menjadi sebuah pertanda akan kegigihan niat dan usaha bagi orang yang menginginkannya. Bagi orang yang benar-benar menginginkan hikmah dari malam tersebut tentu akan lebih bersemangat menjalankan segala amalan ibadah di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan dan akan sungguh-sunguh menjalankannya.

Selain itu, penyembunyian waktu datangnya malam ini menjadi ajakan bagi umat-Nya untuk memperbanyak amalan ibadah untuk lebih mendekatkan diri pada sang pencipta, Allah Ta’ala, dan mendapatkan pahala yang banyak dan melimpah.

Meskipun waktu datangnya malam ini dirahasiakan, tetapi Allah Ta’ala dan Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan berbagai pertanda yang bisa dijadikan sebaga acuan tibanya malam ini. Tanda-tanda malam ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasullulah SAW adalah sebagai berikut.

    Malaikat Jibril turun ke Bumi memimpin malaikat lainnya sampai datangnya waktu subuh. Pertanda ini tidak bisa ditangkap dengan panca indera manusia karena merupakan peristiwa gaib.
    Allah SWT menjanjikan keselamatan bagi hamba-hambanya yang taat beribadah sampai menjelang waktu subuh. Malaikat Jibril dan malaikat yang lainnya diturunkan ke bumi untuk memberikan kebaikan, keberkahan, dan ketenangan. Oleh karena itulah, orang mukmin yang sedang beribadah merasakan ketenangan hati dan kekhusyu’an beribadah melebihi malam-malam lainnya.
    Malam itu menjadi malam yang penuh kedamaian. Langit cerah terang benderang, angin bertiup sepoi-sepoi, dan suhu udara yang menyejukkan, tidak panas, dan tidak dingin.
    Keesokan harinya, matahari terbit putih tanpa noda dengan sinarnya yang tidak terik. Para ulama menjelaskan sebuah rahasia menjelaskan fenomena ini seperti yang dikutip dari berbagai hadis. Pada malam ini, begitu banyak malaikat yang turun ke bumi memberikan kemuliaan pada umat manusia. Ketika terbit fajar, para malaikat inipun segera naik kembali ke langit. Bentangan sayap dan cahaya dari para malaikat ini lah yang menutupi sinar matahari dan terlihat seperti warna putih.

Pertanda telah datangnya malam ini baru disadari oleh umat muslim keesokan harinya atau setelah berlalunya malam ini. Sungguh berbahagia dan beruntung umat muslimin yang mendapatkan hidayah di malam ini. Akan nampak pada dirinya sebuah perubahan yang sangat besar. Berikut beberapa ciri orang yang mendapatkan wasilah malam ini.

Ia akan melihat semua makhluk dan benda di muka bumi bersujud ke hadapan Allah SWT.
Ia mampu melihat semuanya dengan terang benderang walaupun dalam keadaan gelapgulita.
Ia akan mendengar salam dari para malaikat dan semua tutur kata yang diucapkannya.
 Ia akan mendapatkan jaminan semua doa-doanya akan terkabul.

Apapun itu, malam ini menjadi sebuah cambuk bagi umat muslimin untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Semangat ini tidak hanya berhenti pada malam ini saja tetapi diharapkan akan lebih meningkat minimalnya sama dengan apa yang dilakukan pada malam ini.

Manusia adalah manusia, makhluk yang memiliki hawa dan nafsu. Diperlukan keteguhan dan ketulusan hati serta rasa sadar diri bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala dan akan kembali kepada-Nya setelah selesai menjalankan tugas yang diembankan kepadanya. Akan kembali dengan kebaikan apabila manusia menjalankan kebaikan selama kehidupannya dan akan merugi apabila manusia menjalankan kejelekan selama kehidupannya.

Sudah selayaknya malam Lailatul Qadar dijadikan sebagai contoh untuk meningkatkan semua amalan ibadah kita. Semoga, kita semua termasuk orang-orang yang bisa menikmati indahnya faedah malam yang istimewa ini, malam yang setara dengan seribu bulan yang belum tentu kita bisa hidup sepanjang itu. Sekian dan terimahkasi atas Perhatiannya Sahabat KAi Wasslamualikum Wr. Wb.


Assalamualaikum Wr. Wb. apkabar Sobat Pada Kesempatan Kali Ini Kita Akan Membahas Mengenai Hadis Tentang Puasa Dan Kesehatan Nah Puasa Itu ada Kaitannya Dengan Kesehatan
Dalam salah satu hadis puasa, Bukhari Muslim meriwayatkan bahwa “Seorang hamba yang berpuasa dalam sehari di jalan Allah, maka akan dijauhkan Allah orang tersebut pada hari itu wajahnya dari neraka sejauh 70 musim dingin". Hal ini berarti bahwa seseorang yang menjalankan ibadah puasa, akan dijamin untuk ditempatkan di tempat yang jauh dari neraka.

Hadis puasa tersebut disampaikan sebagai janji Allah melalui Nabi Muhammad kepada umat Muhammad yang menjalankan ibadah puasa. Hadis ini juga menguatkan perintah bagi manusia untuk berpuasa sebagaimana yang banyak tercantum dalam Al Qur’an.

 Selain itu, puasa juga memiliki banyak hikmah. Termasuk di antaranya hikmah yang bisa dirasakan oleh manusia saat di dunia. Hal ini terkait dengan manfaat puasa, yang sudah diakui oleh banyak kalangan di dunia penelitian. Baik itu peneliti yang berasal dari kaum muslim maupun non muslim.
Apa itu Puasa?

Menurut bahasa, puasa berarti ‘menahan’. Adapun menurut syariat, puasa berarti ‘menahan dengan diawali niat beribadah dari makanan, minuman, hubungan suami-istri, dan segala hal yang menyebabkan batalnya puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari’.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa perintah puasa termaktub dalam Al-Quran surah Al-Baqarah (2) ayat 183 yang artinya:

“Hai, orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Ayat tersebut bermakna bahwa perintah puasa wajib untuk dilaksanakan manusia supaya manusia bertakwa. Sekaligus menjadi wujud kepatuhan dan ketundukan kepada Allah Swt.
Manfaat Puasa bagi Kesehatan

Banyak di antara kita yang menjalankan ibadah puasa hanya karena ibadah tersebut merupakan perintah agama. Padahal, di balik puasa, ternyata ada banyak manfaat yang dapat kita rasakan. Terlebih jika di tilik dari segi kesehatan. Rasulullah saw. pun pernah bersabda:

“Berpuasalah, niscaya kalian sehat." (HR. Ibnu as-Sunni dan Abu Nu’aim. As-Suyuthi menghasankan hadis tersebut)

Beberapa manfaat puasa bagi kesehatan kita dapat kita amati sebagai berikut.


  • Mengurangi risiko terkena diabetes melitus.
  • Membantu menurunkan tekanan darah.
  • Memperbaiki fungsi kerja saluran pencernaan.
  • Meningkatkan daya tahan (imunitas) tubuh.
  • Membersihkan tubuh dari racun-racun (toksin).
  • Memberikan ketenangan pada jiwa karena dilatih mampu mengendalikan diri.
  • Bagi wanita, dapat menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan sehingga membentuk kembali keindahan tubuh.

Puasa dan Kesehatan

Salah satu dampak positif bagi kaum yang melaksanakan ibadah puasa salah satunya adalah mendapatkan kesehatan yang lebih baik. Banyak penyakit yang bisa disembuhkan, karena seseorang menjalankan ibadah puasa.

Seperti yang terjadi pada salah satu petinju legendaris dunia, Muhammad Ali yang menderita penyakit Parkinson. Penyakit ini menyerang saraf motorik dan mengakibatkan kelumpuhan, sebagai akibat terlalu sering menerima pukulan di kepala saat masih aktif bertinju.

Ribuan obat dan dokter di seluruh dunia sudah didatangi untuk menyembuhkan penyakitnya. Namun penyakit tersebut tidak kunjung membaik. Hingga pada suatu ketika, Ali mendapat saran untuk melaksanakan puasa. Dan akibatnya, penyakit tersebut membaik meski tidak sembuh 100 persen. Namun Ali kini mampu menjalankan aktivitasnya setelah sekian lama lumpuh.

Berdasar penelitian, puasa memiliki fungsi sebagai detoxin. Yaitu membersihkan penyakit yang berada di dalam tubuh. Dengan puasa, racun yang mengendap di dalam darah dibersihkan dan dibuang. Selain itu, puasa juga memberikan kesempatan kepada organ tubuh untuk mengganti sel-sel yang sudah rusak.

Inilah salah satu dampak lain dari menjalankan ibadah puasa, selain sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadis puasa, bahwa puasa membawa kita menjauh dari ancaman neraka.
Hadis Tentang Puasa Ramadhan

Artikel ini memang sengaja mengupas  Hadis puasa, agar membangkitkan semangat saat menjalani ibadah puasa, khususnya puasa Ramadhan.

Beberapa hadis tentang puasa Ramadhan menuturkan bahwa balasan orang yang berpuasa adalah surga dan dijauhkan dari neraka. Padahal, setiap orang yang mencapai predikat muttaqin (golongan orang yang bertakwa) dipastikan masuk surga.

Dengan mengkaji  beberapa hadis tentang puasa akan ditemukan beragam keutamaan dan kebaikan yang didapatkan dari ritual ibadah setahun sekali selama sebulan penuh. Lima di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Puasa Adalah Pembuka Pintu Surga

Rasulullah Saw bersabda,

“Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup…” (HR Bukhari).

Inilah diantara hadis tentang puasa Ramadhan yang dapat dipahami secara tekstual.  Yaitu, jika di bulan Ramadhan Allah Swt. pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar dan semua pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Wallahu a’lam.

Adapun dengan pemahaman lain, peluang masuk surga menjadi lebih besar karena intensitas ibadah yang dilakukan. Sebaliknya, peluang masuk neraka menjadi kecil, karena perbuatan maksiat diminimalisir. Karena dengan puasa keburukan hawa nafsu bisa lebih kita kendalikan. Rasulullah Saw bersabda,

”Puasa itu menjadi perisai seseorang selama ia tidak merusaknya dengan dusta dan membicarakan kejelekan orang lain.” (HR Thabrani)
2. Puasa Akan Melipatgandakan Catatan Kebaikan

Di antara hadis puasa Ramadhan yang paling suka didengar orang yang rajin ibadah adalah, satu ibadah wajib akan dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali ibadah wajib di bulan lain, dan ibadah sunnah bernilai ibadah wajib. Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa bertaqarrub kepada-Nya (di bulan Ramadhan) dengan suatu kebaikan, ia bagaikan melakukan suatu kewajiban di bulan lainnya. Barangsiapa melakukan suatu kewajiban pada bulan ini, maka ia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kali amalan wajib di bulan lainnya.” (HR Ibnu Khuzaimah)

Orang yang sungguh-sungguh berpuasa pada bulan Ramadhan, setiap detik waktunya dicacat sebagai ibadah. Setiap desah napasnya dianggap zikir, bahkan tidurnya pun (asal dengan tujuan yang benar) akan bernilai pahala.
3. Puasa Ramadhan Dapat Menghapuskan Dosa-Dosa

Hadis puasa Ramadhan yang kerap membangkitkan semangat berpuasa adalah, Allah Swt. telah berjanji untuk mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang “mendirikan” Ramadhan. Sebuah hadis menyebutkan,

"Barangsiapa yang 'mendirikan' Ramadhan dengan penuh keimanan dan penghayatan, maka akan diampuni semua dosanya yang telah lalu".

Kata “mendirikan Ramadhan” dapat dimaknai dengan menghidupkan hari-hari Ramadhan dengan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadis puasanya,

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Muttafaqun ‘Alaih).
4. Puasa Menjadi Bukti Keikhlasan Seorang Hamba kepada Tuhannya

Dibandingkan ibadah-ibadah lainnya, semacam shalat, sedekah, berhaji, membaca Al-Quran, ibadah puasa sangat sulit dilihat orang lain, sehingga peluang untuk berbuat riya menjadi sangat kecil.

Dengan demikian, puasa menjadi ibadah khusus yang hanya diketahui oleh Allah Swt. dan hanya dirasakan oleh diri sendiri. Itulah mengapa di antara hadis-hadis tentang puasa Ramadhan selalu diselipkan hadis qudsi yang nadanya menunjukkan bahwa berpuasa harus dengan penuh keikhlasan. Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam hadis qudsi,

"Setiap amal anak Adam (manusia) itu untuknya sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya..."
Nikmatnya Berpuasa

Kapan puasa dilaksanakan? Setiap bulan Ramadhan tiba umat Islam menyambutnya dengan gembira. Pada saat itu, kita akan berpuasa selama satu bulan lamanya.

Bagun pada malam hari untuk melaksanakan sahur dan meniatkan diri untuk berpuasa dari subuh hingga maghrib tiba. Ketika azan maghrib berkumandang, mereka yang berpuasa akan senang dan gembira. Alasannya adalah saatnya berbuka puasa telah tiba.

Setelah menahan lapar dan haus selama seharian dengan menemui banyak godaan, dapat menamatkan puasa hingga magrib adalah sesuatu yang menyenangkan.

Ketika siang hari akan terasa sangat haus dan lapar, melihat apa pun akan terasa enak. Namun, jika waktunya buka sudah tiba, dahaga dan lapar itu akan hilang hanya dengan meneguk segelas air. Rasanya nikmat sekali dan merasa itu pun sudah mengenyangkan.

Islam mengajarkan kita untuk tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Dengan puasa, umat Islam diajarkan untuk tidak berlebihan. Dengan makan dan minum secukupnya, menahan hawa nafsu dan perilaku sehari-hari di hadapan orang-orang. Selain itu, dengan puasa kita juga jadi mengerti perasaan orang lapar, orang-orang yang tak mampu membeli makanan sehari-hari.

Idealnya, ketika berpuasa umat Islam bukan hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi juga hawa nafsu, menjaga emosi dan perilaku. Namun demikian, pada kenyataannya mereka sering menjalankan puasa hanya baru sebatas menahan lapar dan haus.

Agak sulit ketika dihadapkan harus menahan hawa nafsu kaitannya dengan emosi dan perilaku juga pasti berkaitan dengan emosi. Hanya saja dengan berpuasa hal itu akan bekurang porsinya, ketika kita emosi dan menyadari sedang puasa, ada kontrol untuk tidak mengeluarkan emosi tersebut.

Tak heran jika Allah menyiapkan pahala sangat besar bagi hambanya jika menjalankan puasa terutama puasa wajib. Apalagi, puasa di bulan Ramadhan yang sifatnya wajib bagi setiap umat Islam.
Sekian dulu Sobat KAI pembahasan Kali semoga ada Manfaatnya untuk kita semua Wasslamualaikum Wr. Wb.